Audiensi Buku Airport Desain Dengan Bapak Jusuf Kalla

December 17, 2016

Pada tanggal 16 Desember 2016 kemarin, Direktur PT Wiratman, Bapak Tateng K. Djajasudarma berkesempatan untuk melakukan audiensi sekaligus menyerahkan buku Wiratman Architecture: Airport Design kepada Wakil Presiden Republik Indonesia, Bapak Jusuf Kalla. Dalam kesempatan tersebut, kami berdiskusi dengan Bapak Jusuf Kalla, Bapak Muhammad Oemar (Kepala Sekretariat Wakil Presiden), dan Bapak Tirta Hidayat (Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Ekonomi, Infrastruktur dan Kemaritiman) mengenai pembangunan bandara di seluruh Indonesia.  PT Wiratman setidaknya telah terlibat dalam desain dan pembangunan dari 35 bandara Indonesia.

Bapak Jusuf Kalla sangat terkesan dengan bandara – bandara baru di Indonesia yang sudah tidak lagi terpaku pada konsep adat dan tradisional. Menurut beliau, bandara sebagai pintu gerbang sebuah daerah sudah seharusnya terlihat modern, tidak harus terpaku dengan konsep adat dan budaya. Bangsa Indonesia perlu mengubah cara berpikir menuju arah yang lebih modern karena desain yang terpaku pada konsep adat dan budaya cenderung tidak efisien dan membutuhkan perawatan yang mahal. Seperti pada Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang Medan. Pada awalnya Bandara Kualanamu didesain mengikuti konsep rumah tradisional Batak, namun dikhawatirkan akan menimbulkan keributan karena di Sumatera Utara tidak hanya terdapat suku Batak, tetapi juga ada suku lain. Hingga kemudian bandara ini mengambil konsep desain dari kelapa sawit, karena lahan bandara merupakan bekas perkebunan kelapa sawit dan dianggap lebih netral dan modern. Meskipun desainnya secara umum modern, tetapi Wiratman Architecture selaku konsultan arsitek tetap memasukkan unsur – unsur berbagai suku di Sumatera Utara dalam interior bandara.

Prinsip pembangunan bandara itu sederhana menurut Bapak Jusuf Kalla. Orang yang datang dari luar daerah ingin segera sampai tujuan dan keluar dari bandara sehingga tidak akan memperhatikan secara detail tapi perlu mendapatkan impresi awal yang menyenangkan ketika tiba di bandara. Sedangkan orang yang akan pulang ke daerah asalnya akan menunggu di bandara, bila pesawatnya terlambat perlu adanya area konsesi untuk menghindari kebosanan di bandara. Hal tersebut disetujui oleh Bapak Tateng. Yang perlu ditambahkan dalam desain bandara di Indonesia, menurut Bapak Tateng, adalah keberadaan waving gallery. Orang Indonesia senang untuk melihat pesawat, bahkan di beberapa daerah, banyak orang – orang yang berekreasi di halaman diluar pagar bandara untuk melihat pesawat melakukan landing dan take off. Di Bandara Internasional Soekarno Hatta sendiri sebetulnya juga terdapat waving gallery, namun tidak banyak orang yang mengetahui hal tersebut.

Pada saat audiensi kemarin, Bapak Jusuf Kalla menyebutkan beliau menyesalkan Terminal 3 Ultimate – Bandara Soekarno Hatta tidak didesain oleh konsultan lokal, melainkan didesain oleh konsultan dari luar negeri. Konsultan lokal seharusnya dilibatkan dalam seluruh pembangunan bangunan agar meningkatkan kemampuan kerja kita sehingga dapat bersaing dengan konsultan dari luar negeri. Jika tidak dipaksa, maka pengetahuan dan kemampuan kita tidak akan maju. Dengan adanya buku Wiratman Architecture: Airport Design diharapkan dapat memberikan pengetahuan desain bandara bagi para arsitek muda agar kemampuan kita lebih berkembang lagi.