orum Arsitektur ARCHINESIA #23: Mendesain Airport di Indonesia

March 16, 2017

Forum Arsitektur ARCHINESIA #23 bertema “Mendesain Airport di Indonesia” dilaksanakan pada Rabu, 15 Maret 2017 kemarin dengan menghadirkan Tateng K. Djajasudarma dan Basauli Umar Lubis selaku pembicara, dan Achmad Noerzaman sebagai moderator.

Indonesia saat ini memiliki lebih dari 275 bandara. Bandara – bandara tersebut dikelola oleh PT. Angkasa Pura I, PT. Angkasa Pura II, TNI, dan swasta. Dalam diskusi tersebut, disebutkan tentang bagaimana mendesain sebuah bandara. Bandara tidak dapat didesain oleh arsitek saja, tetapi juga membutuhkan pengetahuan dari planner, pihak pemerintah selaku pembuat standar dan peraturan, dan juga pihak maskapai penerbangan.

Seringkali, desain bandara di Indonesia dibuat melalui proses desain kompetisi atau sayembara. Tetapi seringkali, desain tersebut kemudian tidak terbangun sesuai dengan desain awal atau yang lebih buruk, tidak jadi terbangun. Karena proses desain kompetisi biasanya memiliki waktu yang sangat singkat, sehingga bisa jadi desainer – dalam hal ini arsitek/ konsultan yang mengikuti sayembara, tidak sempat/ kurang waktunya untuk menstudi mengenai regulasi yang berlaku maupun berdiskusi dengan planner terkait kebandaraan.

Pengalaman mendesain bandara melalui desain kompetisi juga dialami oleh Pak Tateng selaku Principal Architect dari PT Wiratman. Kualanamu dan Lombok merupakan salah satu bandara yang didesain melalui desain kompetisi. Kurangnya informasi maupun sosialisasi bagi arsitek dalam merancang bandara, PT Wiratman kemudian melakukan studi secara mandiri dengan mencari literatur bandara maupun melakukan studi preseden hingga ke luar negeri. Karena waktu yang singkat, target proses desain bandara yang seharusnya hanya memakan waktu 10 bulan, menjadi mundur hingga 2 tahun.

Dalam forum diskusi tersebut juga diadakan sesi tanya jawab kepada pembicara. Karena waktu yang terbatas, sesi tanya jawab hanya dibatasi oleh 5 penanya. Salah satu penanya adalah Sukendro Sukendar dari Nataneka Architect. Nataneka Architect merupakan pemenang dari desain kompetisi bandara di Alor yang diadakan 2016 kemarin. Kendro menceritakan pengalamannya ketika desain tersebut akan dibangun, ternyata tidak sesuai dengan harapannya. Desainnya mengalami perubahan dan fee yang tidak sesuai dengan standar dari konsultan tersebut. Selain Kendro, juga ada Lea Aviliani Aziz, Ketua Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) yang berkomentar mengenai interior bandara. Sering dijumpai pada bandara – bandara besar, arsitek kurang memperhatikan jalur plumbing bagi tenant F&B sehingga mereka kesulitan untuk beroperasi. Padahal seharusnya hal tersebut sudah diantisipasi dari awal.

Semoga dengan diadakannya forum mengenai desain bandara ini dapat memberikan pengetahuan maupun pengalaman bagi para arsitek yang akan berkecimpung dalam proses desain bandara.